Kapolda Akui Pelaku Pembunuhan Staf KPU Yahukimo Mantan TNI

Dalam laporan yang diterima kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw tentang pengungkapan kasus pembunuhan staf KPU Yahukimo...

Dana Otsus ‘Ratusan Triliun’ Harusnya Bisa Hadirkan Kesejahteraan di Papua

Kebijakan Otonomi Khusus Papua merupakan titik temu dan jalan tengah untuk menguatkan integrasi Papua sekaligus menjadi jembatan untuk...

Kelompok Separatis Sebar Hoax Tindakan Teror di Yahukimo

Memang kasus pembunuhan yang berturut-turut terjadi itu cukup memberi rasa traumatis tersendiri kepada warga yang ingin beraktivitas,” ungkap Bupati ketika ditemui...

Markus Haluk Tidak Lagi Dipercaya Organisasi KNPB

Seiring berjalannya waktu, Markus yang sudah kian dekat dengan tokoh-tokoh KNPB mulai bermain peran di organisasi tersebut. Hal ini terlihat setidaknya dalam dua tahun terakhir dimana KNPB hanya jalan ditempat...

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

10/30/2020

Edison Waromi: Walaupun UU Sementara Ditolak, ULMWP Tetap Maju


Polemik ditolaknya undang-undang sementara yang dibuat oleh ULMWP (United Liberation Movement for West Papua) semakin ditolak dari beberapa faksi perjuangan West Papua.

Penolakan pertama datang dari TPNPB OPM yang dinyatakan dengan resmi oleh Ketua OPM Jefry Bomanak Pagayak melalui siaran persnya, beberapa waktu lalu.

"Apa yang menjadi dasar ULMWP membentuk sebuah Undang-undang, karena hak Konstitusi perjuangan Papua berada dibawah kendali OPM yang diwariskan melalui konferensi 1 Juli 1971," pernyataan resmi Jefry.

Terkait dengan penolakan Jefry mengatakan kalau Undang-undang yang dibuat oleh ULMWP berasal dari rencana Sem Karoba yang berafiliasi dengan pemerintah Indonesia, kita ketahui dimana Sem Karoba menjalankan bisnisnya di Jakarta tidak lepas dari campur tangan  Bin atau Bais.

Selain beberapa organisasi yang menolak UUD sementara tersebut, didalam tubuh ULMWP pun terpecah menjadi 2 kubu, dimana Direktur ULMWP Markus Haluk sangat tidak sejalan dan menolak undang-undang sementara tersebut, ungkap Jefry.

Baca juga: Aksi Demo Rusuh, Ada Kelompok Yang Mempengaruhi Mahasiswa

Walaupun undang-undang sementara yang dikeluarkan oleh ULMWP ditolak beberapa organisasi perjuangan Papua merdeka, namun ULMWP tetap jalan dan maju sesuai kesepakatan yang sudah dibuat bersama oleh TRWP pimpinan Mathias Wenda.

Mengutip dari pernyataan Edi Waromi, simpatisan OPM - TPNPB maupun KNPB menganggap Undang-undang sementara yang dibuat oleh ULMWP menodai aksistensi perjuangan kelompok TPNPB-OPM pada tahun 1961-1971.

Sebenarnya, menurut Edi Waromi bukan soal menodai konstitusi 1971, justru ULMWP menganggap selama ini TPNPB-OPM dan beberapa organisasi simpatisannya sudah berbuat sejauh mana, dari tahun 1971 hingga sekarang tidak ada wujud perjuangan menuju kemerdekaan Papua.

"Sehingga ULMWP mengambil langkah yang cepat untuk memaksa agar adanya pengakuan segera dari PBB, karena rakyat sudah bosan dengan janji-janji yang selalu disampaikan oleh Jefry Bomanak Pagayak melalui media".

Edi mengatakan apapun yang terjadi ULMWP tetap maju, dan tidak akan pernah mundur, walaupun tidak diterima organisasi lain. 


Pewarta: Arnold 

Share:

10/27/2020

Aksi Demo Rusuh, Ada Kelompok Yang Mempengaruhi Mahasiswa


Jayapura, Papua - Kapolresta Jayapura AKBP Gustav tidak akan memberikan ruang kepada massa aksi yang akan bermobilisasi mengingat potensi gangguan yang mengganggu ketertiban umum, Selasa 27/10

 

"Aksi demo tidak perlu dilaksanakan, karena sesuai dengan pengalaman terdahulu bahwa massa aksi tidak bisa menjaga ketertiban," ujar Kapolresta.

 

Meski melarang massa aksi untuk melakukan mobilisasi, Kapolresta telah menyampaikan agar penyuaraan aspirasi tetap bisa dilakukan namun dengan pertimbangan harus dilakukan di tempat. Kapolresta menganggap bahwa massa aksi berpotensi memunculkan kembali tindakan-tindakan yang dapat merugikan banyak pihak seperti kejadian pada akhir periode 2019 lalu.


Baca juga: Pernyataan Benny Wenda Soal Perjuangan ULMWP

 

"Tentu aksi masih bisa dilaksanakan namun dengan catatan tanpa ada mobilisasi massa," ujar Kapolresta.

 

Gustav juga menyampaikan bahwa pada pagi hari ini massa tidak menunjukkan sikap yang kooperatif. Hal ini disampaikan lantaran massa telah bertindak brutal dengan mencoba melempari petugas dengan batu.


"Bahkan sejak aksi ini belum dimulai, sudah ada indikasi untuk rusuh. Petugas kepolisian yang berada di lapangan menjadi sasaran pelemparan batu," ungkapnya.

 

Diketahui bahwa pelemparan yang dilakukan oleh oknum mahasiswa tersebut terjadi ketika masih dilakukannya diskusi oleh Kapolresta dan perwakilan mahasiswa. Saat ini situasi yang sempat rusuh telah berhasil ditangani oleh aparat Polisi yang dibantu oleh TNI.

 

Ditambahkan juga bahwa sejumlah mahasiswa yang diduga sebagai provokator massa aksi telah berhasil diamankan untuk dilakukan proses lebih lanjut. 

Ketua BEM UNCEN Yop Itlay saat dikonfirmasi terkait pembubaran mahasiswa yang melaksanakan Demo tentang Otsus, dirinya membenarkan adanya pembubaran yang dilakukan oleh aparat keamanan dari Polres Jayapura Kota. 

Dirinya mengungkapkan sangat menyayangkapkan hal ini bias terjadi, pihaknya sudah berkordinasi dengan aparat keamanan untuk melakukan aksi dengan damai dan tertib, namun terjadi aksi diluar perkiraan pihaknya. 

“Kami dsangat kaget melihat ada aksi yang tidak tertib yang dilakukan oleh sekelompok orang yang diduga bukan mahasiswa ikut bergabung dengan massa dan melakukan provokasi, sehingga adek-adek mahasiswa yang lain ikut melakukan aksi diluar mekanisme,” ungkapnya. 

Dirinya menduga kelompok yang masuk kedalam massa ikut bergabung mengaku sebagai senior, hal inilah yang membuat mahasiswa lainnya mengikuti apa yang dipengaruhi oleh mereka, tuturnya. 

Pewarta: Arnold B

Share:

10/18/2020

Pernyataan Benny Wenda Soal Perjuangan ULMWP

Benny Wenda Menunjukan Berkas ULMWP di PBB

Posisi ULMWP sudah bagus jadi badan diplomasi internasional, jangan anggap perjuangan mencapai kemedekaan hanya melalui perang senjata saja, upaya diplomasi juga sebagai jalan meyakinkan dunia internasional.

Selama ini ULMWP berdiri sudah banyak kemajuan-kemajuan yang dilakukan untuk meyakinkan dunia Internasional bahwa Bangsa West Papua ingin merdeka. Disaat pendekatan diplomasi ULMWP hampir sampai pada puncaknya, TPN-PB melakukan tindakan yang sangat merusak keyakinan dunia Internasional terhadap Bangsa West Papua.

Menjelang Sidang Umum PBB kemaren ULMWP sudah mendapatkan kepercayaan, namun pihak TPN-PB melakukan penembakan terhadap rakyat sipil di Intan Jaya dan Nduga yang juga mengakibatkan seorang pendeta tewas. Apa yang dilakukan TPN-PB di Ppaua sama halnya dengan perbuatan teroris, bukan perang melainkan menakut-nakuti atau meneror.

Baca Juga: Gagal Mendapatkan Perhatian PBB, TPNPB semakin Bringas

Kalua begini caranya apa yang mau diharapkan dari TPN-PB, setelah tembak TNI atau Masyarakat  kemudian sembunyi dan berkoar-koar di media bertanggung jawab atas penembakan tersebut.

Saya selaku Ketua ULMWP meminta kepada semua organisasi TPN-PB yang ada di hutan, gunung dan lembah untuk hentikan tindakan kekerasan terhadap manusia, karena apa yang TPN-PB lakukan sama halnya dengan terror, hal inilah yang menjadi musuh dunia internasional, saya sudah berupaya meyakinkan PBB bahwa di Papua tidak ada teroris yang ada adalah upaya perjuangan kemerdekaan west Papua.

Kepada saudara saya yang berada di wilayah pantai saya sangat berterima kasih, karena telah mendukung perjuangan ULMWP di luar negeri. Begitu juga dengan saudara Jefry Bomanak sauadara saya yang berasal dari gunung, silahkan berjuang dengan Konstitusi 1 Juli 1971, jalankan perjuangan masing-masing. ULMWP tetap berada pada jalur diplomasi dan tidak berada dibawah Konstitusi 1 Juli 1971 yang dibuat oleh OPM.

Dari semua organisasi yang ada untuk berjuang, pada akhirnya nanti kita akan melihat siapa yang betul-betul berjuang untuk west papua dan siapa yang mati gila dengan kekuasaan dan mau menajdi pahlawan untuk dikenang dan dicatat setelah Papua Merdeka.


Ketua ULMWP Benny Wenda, 19 Oct 2020

Share:

10/10/2020

Gagal Mendapatkan Perhatian PBB, KKB Semakin Beringas



Gagal mendapatkan perhatian dari Sidang Umum PBB pada tanggal 22–29 September 2020 lalu, Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua semakin beringas dan membabi buta menyerang aparat negara dan masyarakat sipil untuk menunjukan keberadaannya yang semakin diabaikan masyarakat.

 

Cara yang digunakan antara lain memprovokasi, meneror, mengorbankan masyarakat sipil kemudian memfitnah aparat TNI–Polri yang bertugas menjaga keamanan dan kedamaian di Papua.

 

Tujuannya adalah agar masyarakat lokal tertekan dan terpaksa mendukung mereka serta mendapatkan perhatian dunia, serangan KKB Papua terhadap aparat negara dan masyarakat sipil beberapa bulan terakhir semakin mengganas. Dimulai dari penembakan terhadap dua tenaga kesehatan penanganan Covid–19 yakni Almanek Bagau (luka tembak) dan Heniko Somau (tewas di tempat) pada Jumat (22/5/2020) di Distrik Wandai, Kab. Intan Jaya, penembakan petani bernama Yunus Sani (tewas) pada Jumat (29/5/2020) di Kampung Magataga, Distrik Wandai, Kab. Intan Jaya, penembakan warga bernama Laode Zainudin (luka tembak) pada Sabtu (15/8/2020) di Kampung Bilogai, Distrik Sugapa, Kab. Intan Jaya, penembakan 2 warga sipil berprofesi tukang ojek bernama Laode Anas (kemudian meninggal dunia) dan Fatur Rahman (luka tembak) pada Senin (14/9/2020) di Distrik Sugapa, Kab. Intan Jaya.


Baca Juga: 112 Dokter Papua Lulus Program Beasiswa

 

Pembunuhan warga sipil berprofesi tukang ojek bernama Badawi (tewas di tempat) dan penembakan anggota TNI bernama Serka Sahlan (tewas di tempat) pada Kamis (17/9/2020) di Kampung Hitadipa, Distrik Sugapa, Kab. Intan Jaya, penyerangan Koramil Persiapan Hitadipa, Distrik Sugapa, Kab. Intan Jaya pada Sabtu (19/9/2020) yang menewaskan anggota TNI bernama Pratu Dwi Akbar Utomo, penembakan Pendeta Yeremia Zanambani (kemudian meninggal dunia) pada Sabtu sore (19/9/2020) Kampung Hitadipa, Distrik Sugapa, Kab. Intan Jaya, penembakan Polisi dan transportasi di sekitar Bandara Bilorai, Distrik Sugapa, Kab. Intan Jaya pada Jumat (18/9/2020) dan Jumat (25/9/2020).

 

Penembakan ke arah Kodim Persiapan Kab. Intan Jaya pada Senin (5/10/2020), penembakan pos TNI di Pasar Baru Kenyam Kab. Nduga pada Selasa (6/10/2020) yang menewaskan warga sipil bernama Yulius Wetipo, penyerangan terhadap rombongan TGPF di tanjakan Wabogopone, Kampung Mamba, Distrik Sugapa, Kab. Intan Jaya pada Jumat (9/10/2020) yang mengakibatkan anggota Tim bernama Bambang Purwoko (Dosen UGM) dan tim pengamanan bernama Sertu Faisal Akbar menderita luka tembak, KKB masih terus melakukan serangan ke Pos TNI dan Polri di Kampung Koteka, Distrik Kenyam, Kab. Nduga.

 

Rangkaian kekerasan yang dilakukan KKB ini terlihat semakin brutal dan gelap mata, tidak lagi memperhatikan siapa yang menjadi korban. Hal ini sangat disesalkan karena ini sama halnya dengan pelanggaran terhadap HAM dan nilai–nilai kemanusiaan. Masyarakat sipil adalah pihak yang perlu dilindungi oleh semua pihak.


Sumber: Edward GM (Aktifis Papua)

Share:

9/28/2020

Tidak Mendapat Izin Demo, Sekelompok Mahasiswa Papua Di Bubarkan Aparat Keamanan Secara Profesional dan Tanpa Kekerasan



Jayapura, Papua - Anggota Kepolisian membubarkan Mahasiswa Papua yang melakukan Aksi Demo di depan Gapura Universitas Cendrawasih. Senin, (28/09/2020)

Aksi demo yang di lakukan Mahasiswa Papua dalam surat edarannya meminta kepada Elite Politik Local agar berhenti membahas otsus jilid jika tidak melibatkan masyarakat papua, tetapi yang di lakukan Mahasiswa Papua Dalam aksi demo tidak sesuai dengan sasaran mereka sehingga pihak kepolisian dengan atas nama undang-undang berhasil membubarkan Aksi Demo tersebut.

Hal tersebut di ungkapkan salah seorang mahasiswa yang tidak menyebutkan namanya dan terlibat langsung juga dalam aksi tersebut.

"Kami sudah berikan surat ijin entah itu di terima atau tidak namun tetap kami satu hati untuk melaksanakan aksi demo. 


  • Warga Sipil dan Aparat Banyak Dibunuh KKB Papua, TNI Polri Harus Gelar Penidakan
  • Mahasiswa Papua di Yogyakarta Deklarasikan Dukungan Otsus


Tambahnya, Semua Mahasiswa sepakat untuk ikuti prosedur sesuai selebaran tersebut, tetapi ketika di lapangan ada dari kami yang bukan mahasiswa sehingga mereka yang mengacaukan semua ini. Sebagian dari mereka itu bukan mahasiswa dan hanya mengunakan Almamater saja untuk menutupi identitas mereka."Ucapnya saat aksi demo tersebut Usai.

Aksi Demo berlanjut hingga kericuhan terjadi, dimana dalam aksi pembubaran massa demo anggota polisi dilepari dengan batu namun, Anggota Polisi berhasil memukul undur massa dan menangkap beberapa Provokatator yang menjadi Sumber dari kericuhan tersebut.

Kami sangat menyayangkan adanya kelompok yang bukan mahasiswa bergabung dengan kami, sehingga membuat kekakcauan dalam aksi demo tadi, tuturnya.

Share:

Definition List

Unordered List

Support